Kesederhanaan KH Zainal Abidin Munawwir Krapyak

fiqhmenjawab.net ~ Antara isi ceramah KH. Munawwir Abdul Fattah dalam Peringatan 1000 Hari Allahuyarham KH. Zainal Abidin Munawwir tadi malam (Sabtu 12/11/2016): (1) Cara makan Mbah Zainal meniru Rasulullah...
KH. Zainal Abidin Munawwir (paling kanan)

fiqhmenjawab.net ~ Antara isi ceramah KH. Munawwir Abdul Fattah dalam Peringatan 1000 Hari Allahuyarham KH. Zainal Abidin Munawwir tadi malam (Sabtu 12/11/2016):

(1) Cara makan Mbah Zainal meniru Rasulullah shallallahu ‘alayh wasallam. Beliau makan dengan porsi sedikit, kira-kira seukur satu cawan (mangkuk). Tidak pernah berlebihan. Makannya cukup dengan krupuk. Kalau ada, tambah telur, dan tidak kerso dahar daging.

Beliau makan berdasar rasa lapar, tidak berdasar waktu makan: pagi, siang dan malam. Hal ini dilakukan barangkali karena meneladani Kanjeng Nabi dan keluarganya yang tidak pernah makan dengan kenyang, sebagaimana riwayat Sayyidah Aisyah radliyallahu ‘anha:

ما شبِع آل محمد صلى الله عليه وسلم منذ قدِم المدينة

“Keluarga Nabi Muhammad shallallahu alayh wasallam tidak pernah makan kenyang sejak datang ke kota Madinah.”

Beliau juga berprinsip:

نحن قوم لا نأكل حتى نجوع. وإذا أكلنا لا نشبع

“Kami adalah orang-orang yang tidak akan makan sebelum lapar. Dan jika makan, kami tidak kekenyangan.”

Bila saat paceklik, Kanjeng Nabi diriwayatkan meletakkan batu di perut untuk menahan lapar, maka hal yang hampir sama dilakukan oleh Mbah Zainal agar TIDAK MUDAH LAPAR. Tidak pakai batu, tetapi dengan cara mengencangkan sabuk/ikat pinggang! Bila ditanyakan mengenai hal itu, beliau justru akan balik bertanya: “Kita itu mau milih apa: lapar di dunia, dan kenyang di akhirat; atau sebaliknya?!”

*****

(2) Gaya bicara Mbah Zainal juga seperti Kanjeng Nabi: sedikit kata-kata, tapi bermakna. Berbicara seperlunya saja. Beda dg kebanyakan kita, yang senengnya ngomong, ngobrol ngalor-ngidul, tapi hampir tidak ada maknanya, tidak ada hikmah dan pelajarannya. Beliau berlaku demikian, tentu karena mengamalkan hadits:

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت

“Barangsiapa yg beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah berkata yang baik, atau (bila tidak bisa berkata yang baik) sepatutnya ia diam.”

Beliau itu kalau disowani, respon pertama selalu bilang: “Alhamdulillah…”, terus ganti bertanya: “Baik-baik, Wir?” Gak pernah terlihat marah. Hal ini terutama sekitar 3 tahun sebelum wafat. Beliau bahkan sering mohon didoakan bisa husnul-khotimah…

Sepekan sebelum wafat, saat bertemu, beliau sudah dalam keadaan sesak nafas. Beliau banyak diam, dan sama sekali tidak sambat (mengeluh). Beliau bahkan semakin sering mengucapkan “alhamdulillah”…

Hal seperti ini sulit sekali dipraktekkan. Kalau kita umumnya mengucapkan itu saat senang saja, saat punya uang saja, atau saat sehat saja… Tidak demikian dengan Mbah Zainal. Beliau senantiasa mengucapkan “alhamdulillah”, baik saat punya uang, atau tidak; saat sehat, atau sakit… Ini maknanya, beliau mudah bersyukur; sekaligus beliau tidak suka merepotkan orang lain. Barangkali yang begini ini beliau tiru dari sahabat Tsawban radliyallahu ‘anh, yang saat Rasul bertanya kepada para sahabat:

من تكفل لي أن لا يسأل الناس شيئا، وأتكفل له بالجنة

“Siapakah yg mau memberi jaminan kepadaku bahwa dia tidak akan meminta apapun kepada siapapun, yg karena itu, aku akan menjaminnya masuk ke surga?”

فقلت: أنا. فكان لا يسأل أحدا شيئا – رواه أبو داود

“Tsawban menjawab: Saya (wahai Rasul)
Dan sejak itu, Tsawban tidak pernah meminta apapun, alias tidak lagi merepotkan siapapun.”
_________
*Ditulis oleh KH. Hilmy Muhammad

Sumber: Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak

Facebook Comments
No Comment

Leave a Reply

*

*

RELATED BY