Kisah Sahabat Ukasyah yang Hendak Memukul Rasulullah, Shahih-kah?

fiqhmenjawab.net ~ Apakah kisah sahabat ‘Ukasyah yang meminta untuk mengqishash Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam shahih? Kisah ini terjadi pada diri Rasulullah sahalallahu alaihi wasallam  sebelum meninggal. Rasulullah shalalahu ‘alaihi wasallam ...

fiqhmenjawab.net ~ Apakah kisah sahabat ‘Ukasyah yang meminta untuk mengqishash Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam shahih?

Kisah ini terjadi pada diri Rasulullah sahalallahu alaihi wasallam  sebelum meninggal. Rasulullah shalalahu ‘alaihi wasallam  telah jatuh sakit agak lama, sehingga kondisi beliau sangat lemah.

Pada suatu hari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  meminta Bilal memanggil semua sahabat datang ke Masjid. Tidak lama kemudian, penuhlah Masjid dengan para sahabat. Semuanya merasa rindu setelah agak lama tidak mendapat taushiyah dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Beliau duduk dengan lemah di atas mimbar. Wajahnya terlihat pucat, menahan sakit yang tengah dideritanya.

Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai sahabat-sahabat ku semua. Aku ingin bertanya, apakah telah aku sampaikan semua kepadamu, bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala itu adalah satu-satunya Tuhan yang layak di sembah?”

Semua sahabat menjawab dengan suara bersemangat, ” Benar wahai Rasulullah, Engkau telah sampaikan kepada kami bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala adalah satu-satunya Tuhan yang layak disembah.”

Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  bersabda: “Persaksikanlah ya Allah. Sesungguhnya aku telah menyampaikan amanah ini kepada mereka.”

Kemudian Rasulullah bersabda lagi, dan setiap apa yang Rasulullah sabdakan selalu dibenarkan oleh para sahabat.

Akhirnya sampailah kepada satu pertanyaan yang menjadikan para sahabat sedih dan terharu.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam  bersabda: “Sesungguhnya, aku akan pergi menemui Allah. Dan sebelum aku pergi, aku ingin menyelesaikan segala urusan dengan manusia. Maka aku ingin bertanya kepada kalian semua. Adakah aku berhutang kepada kalian? Aku ingin menyelesaikan hutang tersebut. Karena aku tidak mau bertemu dengan Allah dalam keadaan berhutang dengan manusia.”

Ketika itu semua sahabat diam, dan dalam hati masing-masing berkata “Mana ada Rasullullah SAW berhutang dengan kita? Kamilah yang banyak berhutang kepada Rasulullah”.

Rasulullah SAW mengulangi pertanyaan itu sebanyak 3 kali.

Tiba-tiba bangun seorang lelaki yang bernama UKASYAH, seorang sahabat mantan preman sebelum masuk Islam, dia berkata:

“Ya Rasulullah! Aku ingin sampaikan masalah ini. Seandainya ini dianggap hutang, maka aku minta engkau selesaikan. Seandainya bukan hutang, maka tidak perlulah engkau berbuat apa-apa”.

Rasulullah SAW berkata: “Sampaikanlah wahai Ukasyah”.

Maka Ukasyah pun mulai bercerita: “Aku masih ingat ketika perang Uhud dulu, satu ketika engkau menunggang kuda, lalu engkau pukulkan cambuk ke belakang kuda. Tetapi cambuk tersebut tidak kena pada belakang kuda, tapi justru terkena pada dadaku, karena ketika itu aku berdiri di belakang kuda yang engkau tunggangi wahai Rasulullah”.

Mendengar itu, Rasulullah SAW berkata: “Sesungguhnya itu adalah hutang wahai Ukasyah. Kalau dulu aku pukul engkau, maka hari ini aku akan terima hal yang sama.”

Dengan suara yang agak tinggi, Ukasyah berkata: “Kalau begitu aku ingin segera melakukannya wahai Rasulullah.”

Ukasyah seakan-akan tidak merasa bersalah mengatakan demikian. Sedangkan ketika itu sebagian sahabat berteriak marah pada Ukasyah. “Sungguh engkau tidak berperasaan Ukasyah, bukankah Baginda sedang sakit..!?”

Ukasyah tidak menghiraukan semua itu. Rasulullah SAW meminta Bilal mengambil cambuk di rumah anaknya Fatimah.

Bilal meminta cambuk itu dari Fatimah, kemudian Fatimah bertanya: “Untuk apa Rasulullah meminta cambuk ini wahai Bilal?”

Bilal menjawab dengan nada sedih: “Cambuk ini akan digunakan Ukasyah untuk memukul Rasulullah”

Terperanjat dan menangis Fatimah seraya berkata: “Kenapa Ukasyah hendak pukul ayahku Rasulullah? Ayahku sedang sakit, kalau mau mukul, pukullah aku anaknya”.

Bilal menjawab: “Sesungguhnya ini adalah urusan antara mereka berdua”.

Bilal membawa cambuk tersebut ke Masjid lalu diberikan kepada Ukasyah. Setelah mengambil cambuk, Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah.

Tiba-tiba Abu bakar berdiri menghalangi Ukasyah sambil berkata: “Ukasyah..! kalau kamu hendak memukul, pukullah aku. Aku orang yang pertama beriman dengan apa yang Rasulullah SAW sampaikan. Akulah sahabatnya di kala suka dan duka. Kalau engkau hendak memukul, maka pukullah aku”.

Rasulullah SAW: “Duduklah wahai Abu Bakar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah”.

Ukasyah menuju kehadapan Rasulullah. Kemudian Umar berdiri menghalangi Ukasyah sambil berkata:

“Ukasyah..! kalau engkau mau mukul, pukullah aku. Dulu memang aku tidak suka mendengar nama Muhammad, bahkan aku pernah berniat untuk menyakitinya, itu dulu. Sekarang tidak boleh ada seorangpun yang boleh menyakiti Rasulullah Muhammad. Kalau engkau berani menyakiti Rasulullah, maka langkahi dulu mayatku..!.”

Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW: “Duduklah wahai Umar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah”.

Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah, tiba-tiba berdiri Ali bin Abu Talib sepupu sekaligus menantu Rasulullah SAW.

Dia menghalangi Ukasyah sambil berkata: “Ukasyah, pukullah aku saja. Darah yang sama mengalir pada tubuhku ini wahai Ukasyah”.

Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW: “Duduklah wahai Ali, ini urusan antara aku dengan Ukasyah” .

Ukasyah semakin dekat dengan Rasulullah. Tiba-tiba tanpa disangka, bangkitlah kedua cucu kesayangan Rasulullah SAW yaitu Hasan dan Husen.

Mereka berdua memegangi tangan Ukasyah sambil memohon. “Wahai Paman, pukullah kami Paman. Kakek kami sedang sakit, pukullah kami saja wahai Paman. Sesungguhnya kami ini cucu kesayangan Rasulullah, dengan memukul kami sesungguhnya itu sama dengan menyakiti kakek kami, wahai Paman.”

Lalu Rasulullah SAW berkata: “Wahai cucu-cucu kesayanganku duduklah kalian. Ini urusan Kakek dengan Paman Ukasyah”.

Begitu sampai di tangga mimbar, dengan lantang Ukasyah berkata: “Bagaimana aku mau memukul engkau ya Rasulullah. Engkau duduk di atas dan aku di bawah. Kalau engkau mau aku pukul, maka turunlah ke bawah sini.”

Rasulullah SAW memang manusia terbaik. Kekasih Allah itu meminta beberapa sahabat memapahnya ke bawah. Rasulullah didudukkan pada sebuah kursi, lalu dengan suara tegas Ukasyah berkata lagi: “Dulu waktu engkau memukul aku, aku tidak memakai baju, Ya Rasulullah”

Para sahabat sangat geram mendengar perkataan Ukasyah. Tanpa berlama-lama dalam keadaan lemah, Rasulullah membuka bajunya. Kemudian terlihatlah tubuh Rasulullah yang sangat indah, sedang beberapa batu terikat di perut Rasulullah pertanda Rasulullah sedang menahan lapar.

Kemudian Rasulullah SAW berkata: “Wahai Ukasyah, segeralah dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Nanti Allah akan murka padamu.”

Ukasyah langsung menghambur menuju Rasulullah SAW, cambuk di tangannya ia buang jauh-jauh, kemudian ia peluk tubuh Rasulullah SAW seerat-eratnya. Sambil menangis sejadi-jadinya.

Ukasyah berkata: “Ya Rasulullah, ampuni aku, maafkan aku, mana ada manusia yang sanggup menyakiti engkau ya Rasulullah. Sengaja aku melakukannya agar aku dapat merapatkan tubuhku dengan tubuhmu. Seumur hidupku aku bercita-cita dapat memelukmu. Karena sesungguhnya aku tahu bahwa tubuhmu tidak akan dimakan oleh api neraka. Dan sungguh aku takut dengan api neraka. Maafkan aku ya Rasulullah…”

Rasulullah dengan senyum berkata: “Wahai sahabat-sahabatku semua, kalau kalian ingin melihat ahli Surga, maka lihatlah Ukasyah..!”

Semua sahabat meneteskan air mata. Kemudian para sahabat bergantian memeluk Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

ANALISA :

[1] Kisah diatas adalah  terdapat didalam hadits yang panjang dengan redaksi yang berbeda akan tetapi terdapat kisah ‘Ukasyah tersebut yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 3/58, lalu darinya diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Aulia, 4/74, melalui jalurnya juga diriwayatkan oleh Ibnu Jauzi dalam kitabnya Al-Maudhu’at, 1/295.

Al-Haitsami berkata setelah menyampaikan hadits ini (8/605), “Diriwayatkan oleh Thabrani, di dalam (sanad)nya terdapat Abdulmunim bin Idris, dia dikenal sebagai pendusta dan pemalsu hadits.”

Ibnu Al-Jauzi berkata dalam kitab Almaudhuat (1/301), “Ini adalah hadits maudhu (palsu) dan teranulir, semoga Allah membalas dan menistakan orang yang memalsukannya dan merendahkan syariat dengan mencampuradukkan masalah ini serta pembicaraan yang tidak pantas bagi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan juga terhadap sahabatnya.

Sang tertuduh pendusta dalam sanad hadits ini adalah Abdul Munim bin Idris, berkata Ahmad tentangnya, ‘Dia pernah berdusta terhadap Wahab.’ Yahya berkata, ‘Pendusta busuk.’ Ibnu Madini dan Abu Daud berkata, ‘Tidak tsiqah.’ Ibnu Hibban berkata, ‘Tidak halal berdalil dengannya.’ Daruquthni berkata, ‘Dia dan bapaknya diabaikan.’

Demikian pula disebutkan dalam kitab Almaudhu’at oleh As-Suyuthi dalam Alla’aali’ Almudhu’ah (1/257) dan Ibnu Iraq dalam Tanzih Asy-Syariah (1/330) serta oleh Asy-Syaukani dalam kitab Alfawaid Almajmuah, hal. 324..

[2] Kisah permintaan Ukasyah untuk diqishash dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, terdapat riwayat yang menyerupainya dari jalur yang shahih, akan tetapi dalam riwayat yang shahih tersebut, bahwa yang meminta qishash adalah Usaid bin Hudhair radhiallahu anhu, dan tidak ada kaitannya dengan menjelang wafatnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Dari Usaid bin Hudhair ia berkata :

بَيْنَمَا هُوَ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ وَكَانَ فِيهِ مِزَاحٌ بَيْنَا يُضْحِكُهُمْ فَطَعَنَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي خَاصِرَتِهِ بِعُودٍ فَقَالَ: أَصْبِرْنِي فَقَالَ: «اصْطَبِرْ» قَالَ: إِنَّ عَلَيْكَ قَمِيصًا وَلَيْسَ عَلَيَّ قَمِيصٌ، «فَرَفَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ قَمِيصِهِ، فَاحْتَضَنَهُ وَجَعَلَ يُقَبِّلُ كَشْحَهُ»، قَالَ إِنَّمَا أَرَدْتُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ

Seorang lelaki dari kalangan Anshar mengatakan bahwa ketika ia sedang berbincang  dengan sekumpulan orang -kemudian terdapat sesuatu yang lucu- yang membuat mereka tertawa, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menusukkan kayu pada lambungnya, lalu ia berkata, Apakah aku membalas mu ? Beliau menjawab : “balaslah”. Ia berkata, “Sesungguhnya engkau memakai baju, sedang aku tidak memakai baju. Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengangkat bajunya, lalu ia (Usaid) memeluk beliau dan mencium badannya seraya berkata, “Sesungguhnya hanya ini yang aku inginkan wahai Rasulullah.

(HR Abu Dawud : 5224, Al-Baihaqi, Al-Kubro 7/102, At-Thabrani Al-Kabir 1/205, Al-Hakim Al-Mustadrak : 3/327, Dishahihkan syaikh Al-Albani di kitab shahih sunan Abu Dawud)  Wallahu a’lam.

Facebook Comments
One Comment
  • Zaen D. Ach
    11 Desember 2016 at 12:08 am
    Leave a Reply

    mantap ulasannya mas… komplit banget

  • Leave a Reply

    *

    *

    RELATED BY

    • Duhai Allah, Muhammad-kan Kami!

      fiqhmenjawab.net ~ Sahabatmu, Abdussyams, menjadi salah seorang murid di madrasah ruhanimu. Dia mengikutimu, merekam segala perkataan, perbuatan dan ketetapanmu dengan daya ingatnya yang bertambah kuat setelah engkau doakan. Engkau...
    • Muhammad

      fiqhmenjawab.net ~ Setelah bertahun-tahun kaum Quraisy meninggalkan hidup mereka yang nomaden dan memilih untuk menetap di sekitar Kabah, mereka terjebak dalam bulan-bulanan waktu, menampung segala keburukan. Perkotaan adalah sarang...
    • Masih Merasa Paling Suci?

      fiqhmenjawab.net ~ Pada suatu hari, Syeikh Abu Yazid al-Busthami sedang menyusuri sebuah jalan sendirian. Tak seorang santri pun diajaknya. Ia memang sedang menuruti kemauan langkah kakinya berpijak; tak tahu...
    • Janji Rasulullah Saw kepada Orang Kristen

      fiqhmenjawab.net ~ Jumlah umat Muslim dan Kristen melebihi 50 persen jumlah penduduk dunia ini. Jika saja mereka hidup damai, kita sudah setengah jalan menuju perdamaian dunia. Satu langkah kecil...