Cara Bungkam Wahabi Tentang Maulid

fiqhmenjawab.net ~ WAHABI: Kalian membuat bid’ah baru dalam agama yaitu perayaan maulid. SUNNI: Bid’ahnya dari segi apa? WAHABI: Menetapkan ibadah dalam waktu-waktu tertentu, jelas melanggar aturan syara’. SUNNI: Itu...

fiqhmenjawab.net ~ WAHABI: Kalian membuat bid’ah baru dalam agama yaitu perayaan maulid.

SUNNI: Bid’ahnya dari segi apa?

WAHABI: Menetapkan ibadah dalam waktu-waktu tertentu, jelas melanggar aturan syara’.

SUNNI: Itu karena Anda tidak mengerti macam-macam ibadah. Ibadah dilihat dari aspek waktunya terbagi menjadi dua.

Pertama, ibadah yang waktunya ditentukan seperti shalat, puasa dan lain-lain.

Kedua, ibadah yang waktunya mutlak alias bebas, di mana usia manusia menjadi waktu untuk melaksanakannya seperti membaca al-Qur’an, belajar ilmu agama, membaca shalawat, dzikir, takbir, tahlil dan lain-lain.

Kaitan pembagian ibadah tersebut dengan maulid sebagai berikut:

Pertama, perayaan maulid pada dasarnya bukan ibadah, akan tetapi tradisi atau adat istiadat. Sedangkan tradisi atau adat boleh dilakukan inovasi atau membuat cara baru, karena termasuk perkara mubah. Hukum asal dalam setiap perkara yang bermanfaat adalah mubah. Hal ini tidak ada umat Islam yang mengingkarinya. Semuanya setuju.

Kedua, tujuan dari perayaan maulid adalah mensyukuri nikmat Allah kepada kita berupa lahirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bertaqarub, mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah-ibadah yang mutlak, atau bebas waktu pelaksanaannya, seperti dzikir, doa, memuji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, memberi makan banyak orang, memberi hidangan istimewa kepada keluarga, mengingatkan kaum Muslimin tentang sirah perjalanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan lain-lain. Ibadah-ibadah mutlak ini semuanya sunnah.

Ketiga, dengan demikian perayaan maulid pada hukum asalnya adalah mubah, sedangkan tujuannya yang berupa ibadah mutlak adalah sunnah. Kaedah fiqih mengatakan:

اَلْوَسَائِلُ لَهَا حُكْمُ الْمَقَاصِدِ

Wasilah atau sarana itu mengikuti hukum tujuannya.

Berarti merayakan peringatan maulid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hukumnya sunnah. Ini adalah hujjah kami.

WAHABI: Ibadah mutlak yang Anda katakan, tetapi setelah Anda tentukan hari atau bulan pelaksanaannya, justru menjadi ibadah yang waktunya tertentu. Ini jelas bid’ah.

SUNNI: Ibadah yang waktunya tertentu, hanya dapat ditentukan oleh syara’ saja. Sedangkan penetapan para ulama atau umat Islam terhadap ibadah mutlak di atas pada hari atau bulan tertentu, tidak merubahnya menjadi ibadah yang waktunya tertentu. Penetapan waktu secara tertentu tersebut hanya dimaksudkan agar dapat melakukan ibadah mutlak tersebut secara terus menerus. Hal ini sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk kita lakukan. Dalam hadits shahih diriwayatkan:

أَحَبُّ اْلأَعْمَالِ إِلىَ اللهِ مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ الْعَبْدُ وَإِنْ قَلَ

Amal kebajikan yang paling dicintai oleh Allah adalah amal yang terus menerus dilakukan oleh seorang hamba meskipun sedikit. (HR al-Bukhari).

Sebenarnya kalian kaum Wahabi juga membuat tradisi baru dalam agama, seperti pekan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi, pendiri Wahabi, dan peringatan mengenang wafatnya Syaikh Abdul Aziz bin Baz, mufti Wahabi. Apa bedanya tradisi ulama Anda dengan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Anda jangan mengikuti hawa nafsu akhi.

WAHABI: Itu hanya dilakukan satu kali, dan pada tahun-tahun berikutnya tidak dilakukan lagi.

SUNNI: Berarti tradisi kebaikan yang Anda lakukan tidak sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menganjurkan melakukan kebaikan terus menerus tanpa henti dalam hadits:

أَحَبُّ اْلأَعْمَالِ إِلىَ اللهِ مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ الْعَبْدُ وَإِنْ قَلَّ

Amal kebajikan yang paling dicintai oleh Allah adalah amal yang terus menerus dilakukan oleh seorang hamba meskipun sedikit. (HR al-Bukhari).

Perhatikan dalam hadits di atas, ibadah mutlak dianjurkan untuk dilakukan terus menerus. Nah sunnah ini yang kami lakukan.

Oleh: Ustadz Idrus Ramli

Facebook Comments
No Comment

Leave a Reply

*

*

RELATED BY

  • Hukum Mahallul Qiyam, Berdiri Saat Pembacaan Maulid

    fiqhmenjawab.net ~ Berdzikir kepada Allah dapat dilakukan dalam posisi apapun, sebagaimana dalam ayat berikut: الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ … (ال عمران ١٩١) “(Ulul Albab yaitu) orang-orang...
  • 6 Amalan di Hari Jum’at yang Penuh Berkah

    fiqhmenjawab.net ~ Di dunia ini terdapat tujuh hari dalam satu pekan. Dalam satu pekan itu Allah SWT selalu memberikan rahmat-Nya yang tak terbatas. Namun di antara tujuh hari tersebut,...
  • Habib Luthfi: Tujuh Keutamaan Peringati Maulid Nabi

    fiqhmenjawab.net ~ “Membaca shalawat jangan malas-malas, bershalawat harus penuh dengan semangat,” begitu pesan yang pernah disampaikan Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya. Menurut beliau, sedikitnya ada tujuh keutamaan memperingati...
  • Beberapa Niat Saat Menghadiri Majelis Maulid Nabi

    fiqhmenjawab.net ~ SELAMAT DATANG BULAN KELAHIRAN NABI MUHAMMAD SAW استقبال شهر ولادة النبي صلى الله عليه واله وسلم من النوايا الصالحة عند حضور مجالس المولدالنبوي الشريف ونَوَيْتُ أنْ أَحْضُرَ...