Rendah Hati Kunci Kedekatan Kepada Allah dan Para Hamba-Nya

fiqhmenjawab.net ~ Allah, Tuhan Yang Maha Suci, hanya bisa didekati oleh jiwa-jiwa suci, yang tanpa merasa suci. Jiwa yang suci adalah jiwa yang bersih dari segala macam penyakit hati...

fiqhmenjawab.net ~ Allah, Tuhan Yang Maha Suci, hanya bisa didekati oleh jiwa-jiwa suci, yang tanpa merasa suci. Jiwa yang suci adalah jiwa yang bersih dari segala macam penyakit hati dan syahwat-syahwat duniawi. Adapun kotoran jiwa yang amat samar dan tersembunyi adalah merasa telah suci dan karenanya merasa telah menjadi manusia pilihan, yakni manusia yang merasa dekat dengan Allah.

Kedekatan manusia kepada Allah itu bukanlah karena amal perbuatan baik manusia itu sendiri, melainkan karena adanya anugerah dan pertolongan dari Allah kepada para hamba-Nya yang terpilih. Jadi, karena adanya kasih sayang Allah sajalah manusia bisa beramal baik sehingga ia bisa mendekatkan diri kepada-Nya. Maka, bersandarlah kepada kasih sayang (rahmat) Allah dan bukan merasa bisa selamat dari-Nya karena amal perbuatan baik yang kita lakukan.

Pembersihan hati dari berbagai penyakitnya harus terus berlangsung selamanya dengan penuh perjuangan (mujahadah) dan itu tanpa diringi rasa berputus asa dari rasa ingin untuk meraih rahmat-Nya. Kemalasan, kebosanan dan rasa putus asa dari rahmat-Nya adalah sikap mental yang tercela. Kehilangan harapan dari-Nya adalah kehilangan segalanya. Inilah hakikat godaan syetan yang terkutuk itu.

Manusia sebagai hamba Allah tidak boleh berputus asa dari rasa ingin memeroleh kasih sayang-Nya. Sebagai manusia, ia tidak boleh mengandalkan bahwa amal baiknya itu terwujud karena potensi mutlak dari dirinya sendiri. Karena jika demikian, maka manusia itu terjebak dalam ilusi, yakni telah merasa menjadi manusia suci yang karenanya ia menjadi mudah menyalahkan siapa saja yang dianggapnya kotor dan rusak. Ia tertipu oleh perasaannya sendiri, seolah ia telah dipilih oleh Allah sebagai pemegang otoritas kebenaran mutlak yang menjadi satu-satunya penyeru manusia lain ke jalan Allah (ad-da’i ilallah), padahal ia tidak lebih dari seorang hakim yang dengan mudah menjatuhkan vonis kepada terdakwa atau minimal memberikan stigma buruk kepada setiap orang “kotor” yang dimusuhinya.

Selalu berupaya untuk dekat kepada Allah dengan cara berjuang keras tanpa berputus asa untuk meraih kasih sayang (rahmat)-Nya itu akan melahirkan jiwa yang selalu berendah hati (tawadlu’), tidak sombong, di hadapan setiap makhluk-Nya di muka bumi ini. Karena rasa ingin tersebut diiringi harap-harap cemas dan rasa takut secara berimbang. Ada keinginan untuk mendekati-Nya dengan tanpa malas, tanpa bosan dan tanpa kenal lelah terus diperjuangkan sambil mengharap petunjuk dan pertolongan-Nya dan merasa takut jika terjadi yang sebaliknya, menjadi manusia sombong dan durhaka kepada Sang Pencipta.

Seperti Iblis terlaknat yang merasa lebih baik dan merasa lebih mulia dari manusia, maka manusia yang menyesaki jiwanya dengan kesombongan adalah manusia yang pada hakikatnya jauh dari kasih sayang Allah. Manusia yang jauh dari sifat rendah hati (tawadlu’) itu adalah manusia yang hanya mengandalkan amal baiknya kepada potensi dirinya sendiri, sehingga ia merasa lebih hebat dari orang lain atas apa saja yang pada hakikatnya merupakan anugerah Allah kepadanya, yakni manusia yang merasa suci, merasa benar sendiri, merasa menjadi kekasih Allah, merasa aman dari murka-Nya dan mudah putus asa dari memeroleh rahmat-Nya.

Oleh: KH. Ahmad Ishomuddin, Rois Syuriah PBNU

Facebook Comments
No Comment

Leave a Reply

*

*

RELATED BY

  • Rasulullah Saw Penebar Rahmat, Mengapa Sebagian Umatnya Menebar Laknat?

    fiqhmenjawab.net ~ Rasulullah, Sayyiduna Muhammad shalla Allahu ‘alaihi wa sallama adalah utusan Allah yang ditugaskan untuk menebarkan kasih sayang untuk alam semesta. Kasih sayangnya itu dengan demikian bukan hanya...
  • Habib Luthfi: Bedanya Haul dan Maulid

    fiqhmenjawab.net ~ “Bedanya Haul dengan Maulud adalah, jika Maulud yang dimauludi awalnya baik, terus baik, sampai akhirnya pun baik. Tapi kalau Haul, yang dihauli itu awalnya belum tentu baik,...
  • 212, Organisme Rakyat dan Umat Islam

    fiqhmenjawab.net ~ Dari Pulau Seribu hingga 411 dan 212 saya menemukan, menyaksikan dan merasakan dengan penuh sukacita dan rasa syukur, bahwa ternyata Allah tidak meninggalkan rakyat kecil dan Ummat...
  • NKRI Kacau?

    fiqhmenjawab.net ~ Oleh: Gus Yazid, menantu KH. Idris Hamid Pasuruan. Kacau, ma huwal kacau? Wama adrokamal kacau? Pengamat anu mengatakan: “Pilkada Jakarta kali ini benar-benar berasa pilpres karena merupakan...