Habib Luthfi: Energi Nasionalisme Melebihi Nuklir

fiqhmenjawab.net ~ Habib Luthfi bin Yahya mengatakan: Laut itu istimewa, di dalam al-Qur’an, Allah subhanahu wata’ala kerap membahas tentang laut, ada apa dengan laut, sehingga Allah menjadikan contoh. Laut...
Habib Luthfi bin Yahya

fiqhmenjawab.net ~ Habib Luthfi bin Yahya mengatakan: Laut itu istimewa, di dalam al-Qur’an, Allah subhanahu wata’ala kerap membahas tentang laut, ada apa dengan laut, sehingga Allah menjadikan contoh.

Laut itu punya jatih diri, pendirian, dan harga diri, sehingga betapapun zat yang masuk kedalam laut melalui sungai-sungai yang mengalir kepadanya, keasinan air laut tidak akan terkontaminasi, karena laut itu bisa mengantisipasi limbah-limbah yang masuk.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan, ikan yang berada di dalam lautpun juga demikian, ia tetap tawar dan tidak terkontaminasi oleh asinya air laut, sedangkan air laut sendiri tidak mengintervensi ikan yang ada di laut, keduanya mempunyai jati diri yang luar biasa dan bisa hidup bersama, serta saling menghargai dalam idologinya masing-masing.

Dalam hidup berbangsa dan bernegara, laut adalah contoh kongkrit, jati diri bangsa, harga diri bangsa, kehormatan bangsa tetap punya kepribadian luar biasa, dan kedua-duanya dapat hidup bareng dengan harmoni, kalo kita bisa meniru kehidupan yang ada di laut, maka bangsa ini akan aman dan tidak bakal ruwet.

Habib lutfi mengatakan bahwa jati diri bangsa kita hampir hilang, ini ditandai dengan rasa nasionalime yang semakin menyurut dan krisis, karenanya kita dituntut untuk tidak boleh meninggalkan atau melupakan sejarah bangsa ini. Kalau kita meninggalkan sejarah maka akan lenyaplah peradaban, dan jika sudah tidak punya peradaban maka hilanglah jati diri kita.

Menurut Habib Lutfi, fanatik dalam hal kebangsaan itu tidak masalah, Nabi Muhammad sendiri menuntun kita untuk cinta bangsa dan tanah air. Fanatik kebangsaan itu melebihi nuklir, nuklir itu bisa meledakan mana saja, tapi tidak akan bisa melunturkan keindonesian, dan tidak akan menghancurkan jati diri idologi kebangsaan.

Oleh: KH. Maman Imanul Haq

Comments

comments

RELATED BY