Ngaji Tawadhu’ pada KH Ridwan Sururi

fiqhmenjawab.net ~ Kurus tubuhnya, keriput kulitnya. Semua itu tak mengurangi ketegapan dan kecepatan langkahnya meski usianya sudah tua (sepuh). Pun tak mengurangi kelantangan suaranya. Ngajinya masih sangat tartil bahkan dilantunkan...
KH Ridwan Sururi saat mencium tangan
fiqhmenjawab.net ~ Kurus tubuhnya, keriput kulitnya. Semua itu tak mengurangi ketegapan dan kecepatan langkahnya meski usianya sudah tua (sepuh). Pun tak mengurangi kelantangan suaranya. Ngajinya masih sangat tartil bahkan dilantunkan dengan lagu khas qori’. Syi’iran jawa penuh makna yang kemudian dilanjutkan dengan shalawatan selalu menghiasi ceramahnya. Itulah sosok KH. Ridwan Sururi, Pengasuh Pondok Pesantren An-nur, Kedung Banteng, Purwokerto.
 
Sebelum menaiki panggung untuk memberikan mauidzah hasanah, beliau bukan hanya bersalaman dengan mencium tangan kepada KH Nahduddin Royandi Abbas yang lebih sepuh darinya. Tapi, beliau juga dengan rendah hati (tawadhu’) mencium tangan putra-putra gurunya, seperti pada KH Muhammad Abbas Fuad Hasyim (Kang Babas), seorang yang umurnya cukup jauh lebih muda.
 

KH Ridwan Sururi

 Hal itu pun beliau lakukan saat tiba di komplek makam Gajah Ngambung, Buntet Pesantren. Beliau mencium tangan KH Nuruzzaman, KH Anis Wahdi, KH Tamam, yang umurnya lebih muda darinya.
 
Ketawadhu’an beliau tak hanya terlihat dari tindakan, tetapi dari ucapan juga beliau begitu merendah. Hal ini terdengar saat beliau mengawali mauidzah hasanahnya pada puncak acara Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren.
 
“Haul pada tahun 2017 ini merupakan haul yang lain daripada yang lain, sehingga dihadiri orang yang paling tinggi se-Indonesia. Sing ngaji sing paling ingsor ning ingsor dewek se-Indonesia, rupane wong Purwokerto (yang mengisi pengajian orang yang paling rendah se-Indonesia, yaitu orang Purwokerto) ,” ujar pengasuh Pondok Pesantren Annur, Kedung Banteng, Purwokerto, itu mengawali ceramahnya, Sabtu, (15/4/2017).
 
Bukan hanya itu saja, setiap acara Haul Pesantren Buntet, beliau selalu mengerahkan santri-santrinya dari Purwokerto untuk membantu acara tersebut dan meladeni (khidmah) pada tamu-tamu kiai Buntet. Beliau pun juga membawa serta satu truk kelapa untuk dibagi ke segenap kiai Buntet.
 

Comments

comments

RELATED BY