Cerita Dua Sahabat: Gus Mus dan Quraish Shihab

fiqhmenjawab.net ~ Dua cendikiawan muslim bertemu berbagi cerita soal kedekatan mereka. Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus dan Muhammad Quraish Shihab bercerita soal persahabatan keduanya. Rupanya, Gus Mus dan...
Gus Mus, Quraish Shihab, dan Najwa Shihab

fiqhmenjawab.net ~ Dua cendikiawan muslim bertemu berbagi cerita soal kedekatan mereka. Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus dan Muhammad Quraish Shihab bercerita soal persahabatan keduanya.

Rupanya, Gus Mus dan Habib Quraish sudah bertemu sejak 50 tahun lalu di Kairo, Mesir. Ketika itu mereka sedang berkuliah di Universitas Al Azhar.

“Jadi kalau beliau di Mesir mencari ilmu. Kalau saya mencari kawan. Jadi saya cari kawan yang kira-kira ilmunya bisa saya serap,” kata Gus Mus dalam acara diskusi bertema ‘Cerita Dua Sahabat’ di Masjid Bayt Al Quran, Jalan Kompleks Villa Bukit Raya, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (11/5/2017) malam.

Quraish Shihab menanggapi singkat pernyataan Gus Mus. Menurutnya, mencari kawan adalah bagian dari mencari ilmu.

“Yang mencari kawan itu pasti berilmu. Pada saat kita bersahabat, kita saling belajar,” ujar Habib Quraish.

Bersahabat sejak lama, keduanya memiliki pandangan mengenai sosok masing-masing. Habib Quraish menyebut Gus Mus sebagai orang yang berhati bersih dan suka bercanda.

“Gus Mus itu, yang saya kenal, hatinya sangat bersih. Tidak pendendam. Sangat halus walaupun suka bercanda. Tapi candaannya tidak menyinggung. Ada nasihat, janganlah menyinggung sahabatmu dengan mengandalkan persahabatan. Gus Mus kalau saya gembira, ikut gembira. Kalau gundah, Gus Mus gundah,” ungkapnya.

Gus Mus memandang Habib Quraish selain sebagai sahabat juga sebagai orang yang menjadi panutannya. Sebab, menurutnya Habib Quraish sosok orang yang sangat tekun belajar dan berilmu.

“Saya di bawah jauh beliau, maka saya panggilnya Om. Karena menganggap lebih tua. Beliau di sana tekun sekali, mencintai ilmu sekali. Saya bercanda, main apa-apa dengan beliau tidak takut. Karena beliau berilmu. Ciri-ciri orang berilmu itu kan memahami, tidak mudah menilai salah orang lain,” tutur Gus Mus. (detik.com)

Pertanyaan Najwa Shihab Yang Bikin Merinding

Satu momen yang bikin merinding dan membuat ingin meneteskan air mata adalah ketika Najwa Shihab bertanya kepada Gus Mus dan Habib Quraish: Bagaimana jika nanti kami kehilangan anda berdua? “Saya belum bisa membayangkan bagaimana nanti ditinggal Abi (Habib Quraish) dan Abah (Gus Mus), bagaimana jika Anda berdua tidak ada, siapa yang akan meneruskan? bagaimana nanti kami-kami ini?” Tanya Najwa dengan terisak.

Sebagai seorang jurnalis yang dikenal tajam dan konfrontatif dalam bertanya, Najwa kali ini lain. Dia bukan Najwa si jurnalis lugas dan tajam, melainkan si Najwa seorang putri kecil yg khawatir, selayaknya seorang anak yang takut ditinggal mati orangtuanya. Hadirin terdiam sejenak. Suasana mendadak senyap.

Habib Quraish dan Gus Mus terdiam cukup lama sebelum menjawab pertanyaan itu. Gus Mus akhirnya menjawab dengan yakin: “Tidak perlu khawatir! Banyak tokoh-tokoh muda yang akan lebih mumpuni dari kami dan menyesuaikan zamannya. Hanya tinggal menunggu waktunya saja anak-anak muda ini muncul ke permukaan. Wong maut itu kepastian.” Dawuh Gus Mus.

“Kita biasa saja lah dalam menghadapi sesuatunya. Termasuk dalam beragama. Kita sudah diperingatkan, kita ini hidup di jaman yang brengsek, karena sebaik-baik jaman adalah jaman Nabi (beneran, Gus Mus pakai istilah jaman brengsek) Maka kita harus banyak-banyak syukur, dan merasa beruntung masih diberi iman di jaman yang brengsek.” lanjut Gus Mus.

Habib Quraish pun demikian. Tidak ada alasan bagi kita untuk bersedih sepeninggal beliau berdua. Beliau berkata: “Kita semua manusia, pasti merasakan kehilangan. Kalau bukan kita yang pergi, pasti dia yang pergi. Akan tetapi yang pergi bukan hilang. Pada hakikatnya ia pasti menanti kita untuk bertemu kembali di Shirath.”

Beliau juga menyambung dengan bahasan istilah shirat al-mustaqim. Shirat ini, bagi Habib, adalah jalan besar. Lain halnya sabil, karena sabil adalah jalan kecil. Di dunia ini kita menempuh sabil masing-masing, jalan-jalan kecil. Jika kita konsisten menempuh sabil ini, pada akhirnya nanti akan bersama-sama bertemu kembali di shirath.

Comments

comments

RELATED BY