Gus Dur dan Pencacinya

fiqhmenjawab.net ~ Siapa yang banyak mencaci, maka ia akan banyak dicaci. Sebab, mencaci akan melukai hati orang yang dicaci sehingga yang dicaci cenderung akan balas mencaci. Bayangkan jika yang...
Gus Dur dan Gus Mus

fiqhmenjawab.net ~ Siapa yang banyak mencaci, maka ia akan banyak dicaci. Sebab, mencaci akan melukai hati orang yang dicaci sehingga yang dicaci cenderung akan balas mencaci.

Bayangkan jika yang suka mencaci itu tokoh panutan banyak orang. Maka caciannya akan banyak ditiru, mengalami pelipat-gandaan dan berkembang biak mengikuti perkembangan-biakan para pengikutnya. Tak pelak, ruang publik kita akan kotor dengan caci maki.

Namun, kita tahu, tak setiap yang dicaci adalah pencaci. Bangsa ini beruntung memiliki para tokoh ulama seperti Gus Dur, Cak Nur, Gus Mus, Habib Quraish, Buya Syafii, Habib Luthfi… Mereka sering dicaci, tapi dari lisannya tak keluar cacian serupa apalagi cacian yang lebih dahsyat darinya.

Sekalipun Gus Dur dihardik dengan “buta mata buta hati”, Gus Dur tak lantas membalasnya. Gus Dur memilih diam, sabar, dan memaafkan. Walaman shabara wa ghafara fainna dzalika min azmil umur.

Cacian tak berhenti walau Gus Dur sudah mati. Sang pencaci masih saja mencaci. Ketika kuburan Gus Dur rusak, ia mengolok-olok Gus Dur dengan ungkapan tak layak. Padahal Nabi SAW pernah bersabda, “udzkuru mahasina mawtakum” (sebutlah kebaikan orang-orang yang sudah meninggal dunia di antara kalian).

Suatu waktu, ketika masih hidup, Gus Dur ditanya mengapa dirinya tak menyerang balik dengan mencaci. Bukankah dalam al-Qur’an ada ayat, “fajaza’u sayyiatin sayyiatun mitsluha”, Gus Dur biasanya menjawab, “biarin saja. Bangsa ini nanti akan tahu, siapa kita sebenarnya”.

Karena itu, pengikut Gus Dur sebaiknya tak mencaci karena Gus Dur tak mengajarkan “balik mencaci” ketika dicaci. Tsumma ila ruhi Gus Dur, al-fatihah.

Salam,

Oleh: Abdul Moqsith Ghazali

Comments

comments

RELATED BY

  • Tradisi Menyantuni Anak Yatim di Bulan Muharram

    fiqhmenjawab.net ~ Sebagian masyarakat Indonesia menganggap bahwa tanggal 10 Muharram (Asyura) adalah Hari Raya anak yatim. Sehingga banyak yang menyantuni anak-anak yatim pada tanggal tersebut. Apakah benar ada Hari...
  • Tambahan Gelar “Haji”, Bid’ahkah?

    fiqhmenjawab.net ~ Syekh Albani menghukumi bidah panggilan Haji bagi orang yang sudah melakukan ibadah haji. Pernyataan ini jelas tidak menunjukkan sikap Salaf, karena di masa imam-imam dahulu panggilan Haji...
  • Definisi Perawan Menurut Ulama

    fiqhmenjawab.net ~ Perawan Menurut Ulama Madzhab Syafi’iyah:   وقال الشافعية: الثيب: من زالت بكارتها، سواء زالت البكارة بوطء حلال كالنكاح، أو حرام كالزنا، أو بشبهة في نوم أو يقظة،...
  • Hikmah Harlah NU 1992: Kesetiaan kepada NKRI dan Pancasila

    fiqhmenjawab.net ~ 2 Maret 1992. Lapangan Parkir Timur Senayan, Jakarta, siap menampung 2 juta nahdliyyin. Tentu saja aparat pemerintah dibuat heboh dengan kegiatan yang dihelat oleh PBNU di bawah...