Keluar Sperma Sebab Mencium atau Memeluk Istri, Batalkah Puasanya?

fiqhmenjawab.net ~ Salah satu hal yang dapat membatalkan puasa adalah mengeluarkan sperma dengan cara onani (masturbasi) dan semacamnya. Bagaimana jika di siang hari Ramadhan seorang suami mencium atau memeluk...
Pasangan suami istri
fiqhmenjawab.net ~ Salah satu hal yang dapat membatalkan puasa adalah mengeluarkan sperma dengan cara onani (masturbasi) dan semacamnya. Bagaimana jika di siang hari Ramadhan seorang suami mencium atau memeluk istrinya lalu keluar spermanya, apakah hal ini membetalkan puasa?
 
Jika antara tubuh suami dan istri ketika mencium atau memeluk terdapat penghalang (tidak bersenuhan kulit secara langsung) seperti menggunakan pakaian, maka keluarnya sperma tersebut tidak membatalkan puasa. Hal ini seperti tersebut dalam kitab I’anah at-Talibin yang menyebutkan:
 
ولو ضم امرأة أو قبلها بلا ملامسة بدن بحائل بينهما فأنزل لم يفطر لانتفاء المباشرة كالإحتلام والإنزال بنظو وفكر ولو لمس محرما أو شعر امرأة فأنزل لم يفطر لعدم النقض به ولا يفطر بخروج مذيّ خلافا للمالكية .
 
“Jika seorang laki-laki merangkul atau mencium wanita tanpa tejadi persetubuhan badan karena ada sesuatu yang menghalangi keduanya, lalu mengeluarkan sperma, maka puasanya tidak batal, sebagaimana keluar sebab mimpi diwaktu tidur atau keluar sperma sebab memandang atau melamun.
 
Jika seorang laki-laki menyentuh wanita mahramnya, atau rambut seorang wanita, lalu keluarlah sperma, maka puasanya tidak batal, sebab wudlu tidak batal sebab hal itu. Sedangkan keluar air madzi tidak membatalkan puasa, lain halnya dengan pendapat ‘ulama-‘ulama Malikiyyah (yang berpendapat bisa membatalkan puasa).” (I’anah at-Talibin juz 2 hlm. 227)
 
 
Berbeda jika keluarnya sperma saat puasa disebabkan karena onani (masturbasi) dengan cara menggosok atau meremas kelamin dengan menggunakan tangan, baik tangan sendiri maupun tangan istrinya atau dengan sebab menonton gambar porno atau melamun jorok sehingga menimbulkan rangsangan syahwat dan menyebabkan keluarnya mani maka hal tersebut bisa membatalkan puasa. Demikian keterangan dalam Nihayatuz Zain karya Syaikh Nawawi:
 
(واستمناء) أى طلب خروج المني وهو مبطل للصوم مطلقا سواء كان بيده أو بيد حليلته أو غيرهما بحائل أولا بشهوة أولا 
 
Namun demikian, di bulan puasa yang merupakan ruang melatih diri mengekang hawa nafsu, hendaklah lebih berhati-hati. Ingatlah hadits Rasulullah saw tentang mereka yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apapun kecuali lapar dan dahaga, karena sesungguhnya mereka tidak melakukan puasa kecuali tidak makan dan minum. Wallahu a’lam.[] 
 
Oleh: Nasyit Manaf

Comments

comments

RELATED BY