Lestarikan Tradisi NU, Santri Al-Amien Ziarahi Makam Wali

fiqhmenjawab.net ~ Santri-santri kelas akhir pondok pesantren Al-Amien Purwokerto Wetan, Kabupaten Banyumas – Jawa Tengah setelah menyelesaikan masa belajarnya di pesantren dan ujian nasional sekolah melakukan ziarah ke makam Walisongo...
Nyai Hj. Istiqomah dan santri putri

fiqhmenjawab.net ~ Santri-santri kelas akhir pondok pesantren Al-Amien Purwokerto Wetan, Kabupaten Banyumas – Jawa Tengah setelah menyelesaikan masa belajarnya di pesantren dan ujian nasional sekolah melakukan ziarah ke makam Walisongo dan para auliya lain.

Kegiatan ziarah berlangsung selama empat hari, Senin-Kamis (8-11/5/2017) dipimpin langsung oleh pengasuh Pesantren Al-Amien, Nyai Hj. Istiqomah Chabib dan para asatidz.

Tradisi tahunan ini, dimaksudkan selain untuk mendoakan para kekasih (wali) Allah, juga untuk diri para santri sendiri agar kelulusan mereka mendapatkan keberkahan dan kelancaran dalam melanjutkan studi yang lebih tinggi.

“Kegiatan ini diikuti oleh seluruh seluruh santri kelas akhir dengan tujuan untuk Tawassul, Tabarruk dan Munajat kepada Allah SWT, melalui perantara waliyullah doa mudah terkabul. Selain itu, agar para santri bisa mengambil ibrah dan hikmah tentang bagaimana para wali berjuang menyebarkan Islam di Nusantara sehingga bisa timbul himmah yang tinggi pada santri untuk ikut meneruskan perjuangan para wali.” jelas ustadz Nasyit yang ikut mendampingi para santri dalam berziarah.

Nyai Hj. Istiqomah dan para asatidz serta para santri putra

Wisata ziarah merupakan tradisi yang sudah dijalankan oleh warga NU sejak lama untuk menghormati leluhur dan para wali atau orang shaleh yang telah mendedikasikan hidupnya untuk Agama Islam. Selain makam Walisongo mengecualikan makam Sunan Gunungjati, santri-santri Al-Amien juga menziarahi makam Mbah Dalhar (Syaikh Nahrawi) Watucongol, Raden Patah, Gus Dur, KH. Djazuli Usman dan Gus Miek Ploso.

Ziarah juga merupakan salah satu tradisi yang telah berlangsung lama dilestarikan pesantren, selain tahlil, muludan, manaqiban, dan lain-lain. Hal ini dilakukan untuk menjemput berkah dari para salaf al-shalih, juga untuk merevitalisasi kontribusi dan teladan para leluhur agar senantiasa ‘hidup’ betapapun zaman sudah modern seperti sekarang ini.

Ustad Nasyit  juga mewanti-wanti agar para santri saat berziarah di makam auliya dan ulama agar selalu menjaga akhlak dan tatakrama. Salah satunya yakni ketika bertawassul niat dan tujuannya untuk berdoa kepada Allah SWT bukan kepada makamnya, karena hanya Allah SWT semata yang dapat mengijabah setiap doa.

Comments

comments

RELATED BY

  • Gus Dur dan Pencacinya

    fiqhmenjawab.net ~ Siapa yang banyak mencaci, maka ia akan banyak dicaci. Sebab, mencaci akan melukai hati orang yang dicaci sehingga yang dicaci cenderung akan balas mencaci. Bayangkan jika yang...
  • Rahmat atau Kasih Sayang

    fiqhmenjawab.net ~ Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, sengaja mengutus hamba dan kekasihnya Sayyidanã Muhammad ~shallaLlãhu ‘alaihi wa ãlihi wasallam~ yang pengasih dan penyayang untuk mengasih sayangi alam...
  • Renungan Sosmed Bagi Kita

    fiqhmenjawab.net ~ Imam Masjidil Haram Asy-Syaikh Su’ud Asy-Syuraim ketika membaca khutbah Jumaat beliau berkata: “Adakah kita tidak melihat perubahan dalam hidup kini setelah masuknya Whats App, Facebook, Instagram dan...
  • Kenapa Janin Hasil Zina Kuat dan Mudah Dilahirkan?

    fiqhmenjawab.net ~ Pasti banyak yang bertanya-tanya kenapa perjalanan wanita yang mengandung anak di luar nikah lebih mudah jika di bandingkan dengan wanita yang telah menikah. Jika diperhatikan selama di...