Penetapan Awal Ramadhan

fiqhmenjawab.net ~ Pembicaraan mengenai awal Ramadhan memang tidak akan pernah habisnya, terlebih di negara kita, dari yang awam hingga kaum intelektual hangat mendiskusikannya. Penulis pikir ini adalah perbincangan yang...
Penetapan Awal Ramadhan
fiqhmenjawab.net ~ Pembicaraan mengenai awal Ramadhan memang tidak akan pernah habisnya, terlebih di negara kita, dari yang awam hingga kaum intelektual hangat mendiskusikannya. Penulis pikir ini adalah perbincangan yang positif, perbincangan yang membuat rasa ingin tahu kita naik, mudah-mudahan rasa ingin tahu itu dilanjutkan dengan banyak membaca dan mendengar.
 
Memang Al-Quran tidak menjelaskan secara eksplisit mengenai bagaimana penentuan awal Ramadhan, Syawal dan Haji, hanya saja ada beberapa ayat Al-Quran yang memberikan isyaratnya untuk kita semua.
 
Seorang ilmuan Indonesia, T. Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN, yang tergabung dalam Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI sedikit memberikan penjelasan astronomi mengenai ayat-ayat yang memberikan isyarat tetang operasional penentuan awal Ramadhan, mengingat selama ini yang diungkap dalam diskusi-diskusi penentuan awal ramadhan sebagian besarnya hanyalah hadits-hadits Rasulullah SAW.
 
Dalam beberapa tulisannya beliau mengatakan mula-mula Allah SWT memberikan penjelasan kepada kita secara umum waktu kita berpuasa, melalui firmannya:
 
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
 
“Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan (datangnya) bulan (Ramadhan) itu maka berpuasalah” (QS 2:185)
 
Kemudian Allah SWT tidak memberikan penjelasan khusus bagaimana mentukan bulan tersebut telah datang. Akan tetapi Allah SWT seakan mengirimkan isyarat-Nya melalui ayat berikut tentang perilaku bulan:
 
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
 
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram” (QS 9:36).
 
Bilangan tahun diketahui melalui keberulangan tempat kedudukan bulan di orbitnya (manzilah-manzilah), yaitu 12 kali siklus fase bulan. Keteraturan keberulangan manzilah-manzilah itu yang digunakan untuk perhitungan tahun, setelah 12 kali berulang. Dengan demikian, kita pun bisa menghitungnya. Allah SWT berfirman:
 
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ
 
“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat kedudukan bulan), supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu.” (QS. 10:5).
 
Manzilah-manzilah ditandai dengan perubahan bentuk-bentuk bulan, dari bentuk sabit makin membesar menjadi purnama sampai kembali lagi menjadi bentuk sabit menyerupai lengkungan tipis pelepah kurma yang tua, untuk itu Allah SWT menjelaskan:
 
وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ
 
“Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia seperti pelapah yang tua” (QS 36:39).
 
Lalu, manzilah yang mana yang bisa dijadikan awal bulan? Manzilah awal adalah hilal, hilal itu adalah bentuk sabit tipis. Itulah sebagai penentu waktu (mawaqit) awal bulan, karena tandanya jelas setelah sebelumnya menghilang yang disebut bulan mati. Allah SWT menjelaskan:
 
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ
 
“Mereka bertanya kepadamu tentang hilal (bulan sabit). Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah penentu waktu bagi manusia dan (bagi penentuan waktu ibadah) haji” (QS 2:189).
 
Jadi yang menjadi penanda Ramadhan, Syawal dan Haji itu adalah bulan sabit (hilal), yang merupakan penomena observasi (rukyat), walaupun dalam waktu yang bersamaan hilal ini juga merupakan bagian dari manzilah yang bisa diketahui dengan hitungan (hisab).
 
Jadi observasi mata (rukyat) dengan hisab bukanlah dua hal yang kontradiktif, keduanya bisa digunakan untuk usaha dalam operasional penentun awal Ramadhan, Syawal dan Haji. (Selengkapnya lihat: di sini)
 
1. Rukyat Al-Hilal (Melihat Bulan)
 
Ketika Allah SWT mensyariatkan suatu ibadah kepada hamba-Nya, Allah SWT juga menjelaskan waktunya, juga memberikan petunjuk bagaimana cara mengetahuinya. Pun begitu halnya dalam pensyariatan ibadah puasa.
 
Allah SWT dan Rasul-Nya memberikan petunjuk bahwa ibadah puasa adalah ibadah yang waktu pelaksanaannya berdasarkan peredaran bulan. Syariat ini hadir pada tahun ke 2 H, pada waktu dimana masyarakat Arab dan sekitanya dalam keadaan tidak bisa membaca, menulis dan berhitung (hitung astronomi). Rasulullah SAW bersabda:
 
إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ ، لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسِبُ ,الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا
 
”Sesungguhnya kami adalah umat ummiyah. Kami tidak mengenal kitabah (tulis-menulis) dan tidak pula mengenal hisab. Bulan itu seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 29) dan seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 30).” (HR. Bukhari dan Muslim)
 
Sehingga sangat wajar jika dalam hal ini cara yang disyariatkan untuk mengetahui waktu puasa itu dengan cara melihat bulan, karena cara ini dinilai cara yang paling mudah dilakuakan oleh seluruh manusia, baik dulu maupun sekarang, awam atau terdidik, desa maupun kota.
 
Rasulullah SAW dalam banyak sabdanya memberikan petunjuk tentang melihat bulan, diantara sabdanya:
 
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ
 
“Berpuasalah kamu saat melihatnya (hilal) dan berifthar (lebaran) saat melihatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
 
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ حَال بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ سَحَابَةٌ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلاَ تَسْتَقْبِلُوا الشَّهْرَ اسْتِقْبَالاً
 
“Berpuasalah kamu dengan melihat hilal dan berbukalah kamu dengan melihatnya juga. Tetapi bila ada awan yang menghalangi, maka genapkanlah hitungan dan janganlah menyambut bulan baru.” (HR. An-Nasa’i dan Al-Hakim)
 
Walaupun tenyata metode Ru’yat Al-Hilal ini dalam tenerapannya sedikit terdapat perbedaan dalam jumlah mereka yang melihat. Sebagian berpendapat bahwa kesaksian satu orang adil yang melihat bulan sudah bisa diambil. Ini didadari atas hadit yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar.
 
تراءى الناس الهلال، فأخبرت النبي أني رأيته، فصام رسول الله صلى الله عليه وسلم، وأمر الناس بصيامه
 
“Masyarakat tengah berusaha melihat bulan, maka akupun datang menemui nabi dan mengabarkan bahwa aku sudah melihat bulan, maka Rasulullah SAW berpuasa dan memerintahkan ummat Islam lainnya untuk berpuasa.” (HR. Abu Daud)
 
Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa kesaksian melihat bulan itu harus datang dari dua orang muslim yang adil, sebagai hasil qiyas dengan kesaksian pada perkara lainnya, juga didasarkan dari riwayat Husain bin Harits bahwa Al-Harist bin Al-Hathib seorang amir Mekkah berkata:
 
أمرَنَا رسولُ الله صلى الله عليه وسلم أن ننسكَ لرؤيته، فإن لم نَرهُ فشَهدَ شاهدان عدلانِ نَسَكْنا بشهادتيهما
 
“Rasulullah SAW telah memerintahkan kami untuk berpuasa dengan melihat bulan, jika kami tidak melihatnya, maka kami sudah berpuasa dengan kesaksian dua orang” (HR. Abu Daud)
 
Kalangan Al-Hanafiyah dalam Hasyiah Ibnu Abdin, jilid 2, hal. 92 menambahkan bahwa jika langit cerah, maka tidak cukup hanya dengan kesaksian satu atau dua orang, akan tetapi harus berdasarkan kesaksian orang banyak, kecuali jika langit berawan, maka kesaksian satu atau dua orang tadi bisa diterima.
 
Karena pada dasarya jika bulan bisa dilihat dengan mata telanjang dengan keadaan langit cerah, maka mustahil rasanya jika yang melihat hanya satu, dua orang saja, sehingga sangat wajar jika sebagian ulama dari madzhab Hanafi ini berpendapat bahwa kesaksiannya harus orang banyak.
 
Jika dahulu rukyat (melihat) bulannya hanya dengan mata telanjang, maka sekarang proses melihat bulan sudah mengalami perkembangan, dengan didukung peralatan canggih modern.
 
Kehadiran alat teropong yang mampu memperbesar suatu benda hingga ribuan kali ini sagat membantu dalam proses observasi penentuan awal Ramadhan ini. Sehingga metode ini akan semakin baik hasilnya.
 
2. Hisab
 
Seperti yang sudah disinggung diatas bahwa metode penentuan awal Ramadhan dengan hisab bukanlah sesuatu yang tercela, bahwa memang dahulunya ada sebagian ulama yang menilai ilmu hisab seperti ini adalah ilmu yang terlarang, namun ilmu hisab yang dimaksud oleh para ulama itu adalah ilmu perbintangan yang biasa digunakan oleh para normal untuk mengetahui perkara ghaib. Tentunya untuk ilmu perdukunan tersebut semua ulama menyepakati ketidakbolehannya.
 
Adalah Mutharrif bin Abdillah seorang pembesar tabiin yang memulai memberikan pendapat tentang penggunaan ilmu hisab setelah memahami hadits Rasulullah SAW yang menyatakan; “Jika bulan tidak terlihat, maka taqdirkanlah”. Kata “faqdurulah” ditafsirkan dengan: قدروه بحسب المنازل. (perkirakanlah dengan ilmu hisab), dan yang senada juga diaminkan oleh Abu Al-Abbas bin Suraij, salah satu pembesar ulama Syafiyah.
 
Sebagian ulama yang mendukung metode ini menilai bahwa observasi mata yang dilukan oleh masyarakat terdahulu didasari atas kenyataan bahwa dahulunya belum ada orang yang memumpuni untuk melakukan penghitungan dengan ilmu pengetahuan.
 
Prase yang diungkap Rasulullah SAW: “bahwa kami ini adalah ummat yang tidak bisa membaca dan berhitung” dinilai sebagai illah (alasan) keberadaan observasi mata (rukyat) sebagai penanda awal Ramadhan yang Rasulullah SAW sabdakan.
 
Dengan kondisi ummat seperti itu sangat wajar jika pilihannya hanya rukyat saja, karena inilah yang dimampu oleh mereka. Tidak masuk akal jika malah dengan kenyatakan seperti itu Rasulullah SAW malah memerintahkan untuk menggunakan ilmu hisab.
 
Namun seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, yang diikuti dengan perkembangan ilmu astronomi, sehingga bisa menghitung gerak bulan dengan tingkat kesalahan yang sangat kecil, bahkan sekarang ini hasilnya nyaris tanpa salah.
 
Syaikh Yusuf Al-Qaradhawy di dalam kitabnya “Kaifa Nata’amalu Ma’a As-Sunnah” menjelaskan tentang cara memahami teks hadits melaui kaidah: التمييز بين الهدف الثابت والوسيلة المتغيرة (membedakan antara tujuan yang tetap dan wasilah atau cara yang (bisa) berubah)
 
Dalam hal ini beliau memberikan contoh tentang hadits puasa ramadhan dan rukyat, sabda Rasulullah SAW:
 
صوموا لرؤيته ـ أي الهلال ـ وأفطروا لرؤيته، فإن غم عليكم فاقدروا له
 
“Berpuasalah kalian dengan meliaht (bulan) dan berbukalah (berlebaran) dengan melihat bulan, jika terhalang oleh kalian melihat bulan maka taqdirkanlah”
 
Hadf (tujuan) utama dari hadits ini adalah hendaklah seluruh ummat Islam berpuasa penuh satu bulan pada bulan Ramadhan, dan jangan pernah meninggalkan satu haripun tanpa adanya halangan yang membolehkan baginya untuk berpuasa.
 
Adapun melihat bulan (rukyat) itu hanya wasilah yang sangat mungkin bisa berubah dari waktu ke waktu, jika pada zaman Rasulullah SAW wasilah yang paling mudah dilakukan hanya dengan obsevasi mata telanjang, maka sekarang observasi tentunya bisa dengan mengunakan peralatan moderen, atau bisa juga menggunkan ilmu hisab yang tingkat kesalahannya sangat minim.
 
Imajenasinya adalah jika dahulu masyarakat Islam sudah mengerti astronomi, kira-kira wasilah apakah yang akan direkomendasikan oleh Rasulullah SAW?
 
Jika berita observasi mata telanjang dari satu orang yang adil pada zaman Rasulullah SAW bisa diterima, dengan tingkat kesalahan yang besar, kiranya kurang tepat jika kita nenolak hasil hitungan dengan ilmu hisab dengan tingkat kesalahan yang minim, atau bahkan nyaris tanpa salah.
 
Terlebih bahwa saat ini ilmu pengetahuan ini sudah berkembang hampir diseluruh belahan bumi. Ilmu ini bukanlah ilmu yang hanya diketahui oleh segilintir orang saja. Di Indonesia ilmu ini terus berkembang, hingga kini ada dua metode besar yang sering dipakai dalam penentuan awal Ramadhan:
 
Wujud Al-Hilal (Keberadaan Bulan)
 
Ini adalah salah satu metode hisab yang digunakan oleh sebagian ormas di negara kita Indonesia, khususnya Muhammadiyah. Sederhanyan, kriteria metode Wujud Al-Hilal ini harus memenuhi tiga perkara:
1- Telah terjadi ijtimak (konjungsi),
2- Ijtimak (konjungsi) itu terjadi sebelum matahari terbenam, dan
3- Pada saat terbenamnya matahari piringan atas bulan berada di atas ufuk (bulan baru telah wujud).
 
Jika dalam hitungan ilmu hisab ketiga ini sudah terpenuhi, maka bisa dipastikan bahwa pada malam tersebut sudah masuk bulan baru, dan esoknya kita sudah berpuasa, walau tanpa memperhatikan ketinggian bulan, asalkan posisinya sudah berada di atas ufuk.
 
Sebagian menilai bahwa metode ini adalah isyarat dari firman Allah SWT berikut:
 
لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ
 
Tidaklah mungkin matahari mengejar bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang, dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (QS 36:40).
 
Namun menurut T. Djamaluddin Profesor Riset Astronomi Astrofisika, logikanya, tidak mungkin matahari mengejar bulan. Tetapi dalam metode ini berpendapat ada saatnya matahari mendahului bulan, yaitu matahari terbenam terlebih dahulu daripada bulan, sehingga bulan telah wujud (ada) ketika malam mendahului siang (saat maghrib). Saat mulai wujud itulah yang dianggap awal bulan. Tetapi itu kontradiktif. Tidak mungkin mengejar, tetapi kok bisa mendahului. Logika seperti itu terkesan mengada-ada.
 
Ayat tersebut secara astronomi tidak terkait dengan wujudul hilal (keberadaan bulan), karena pada akhir ayat ditegaskan “masing-masing beredar pada garis edarnya”. Ayat tersebut menjelaskan kondisi fisik sistem bumi, bulan, dan matahari. Walau matahari dan bulan tampak sama-sama di langit, sesungguhnya orbitnya berbeda. Bulan mengorbit bumi, sedangkan Matahari mengorbit pusat galaksi. Orbit yang berbeda itu yang menjelaskan “tidak mungkin matahari mengejar bulan” sampai kapan pun.
 
Malam dan siang pun silih berganti secara teratur, tidak mungkin tiba-tiba malam karena malam mendahului siang. Itu disebabkan karena keteraturan bumi berotasi sambil mengorbit matahari. Bumi juga berbeda garis edarnya dengan matahari dan bulan. Semuanya beredar (yasbahun) di ruang alam semesta, tidak ada yang diam.
 
Imkan Ar-Rukyah (Visibilatas Hilal)
 
Tanda awal bulan itu adalah munculnya manzilah (pase) pertama bulan berupa hilal (bulan sabit), tanda ini bisa dilihat dengan mata (rukyat) dan bisa juga dihitung (hisab) berdasarkan rumusan keteraturan fase-fase bulan dan data-data rukyat sebelumnya tentang kemungkinan hilal bisa dirukyat. Data kemungkinan hilal bisa dirukyat itu yang dikenal sebagai kriteria Imkan Ar-Rukyah atau Visibilitas Hilal.
 
Sepertinya metode ini menggabungkan antara rukyat sebagai cara klasik yang direkomendasikan oleh Rasulullah SAW dalam banyak sabdanya, dengan metode modern melalui ilmu astronomi yang dimotori oleh seoarang tabiin Mutharrif bin Abdillah, sebagai pengembangan dari beberapa sabda Rasulullah SAW terkait wasilah atau metode mengaetahui bulan.
 
Kritik terhadap metode ini adalah tidak jelas parameternya, bahwa ukuran 2 derajat, 3, 5, atau 9 adalah ukuran yang tidak mempunya standar pasti, ia bisa berubah. Kaidahnya adalah bagaimana mungkin kita menyandarkan kepada sesuatu yang tidak jelas.
 
Namun dari metode ini setidaknya bisa digunakan dalam hal meniadakan bulan walaupun penetapannya tetap memakai rukyat. Maksudnya adalah jika dalam hitungan bulan baru tidak bisa dilihat karena rendahnya posisi bulan, maka setidaknya dari sini hakim bisa dan boleh menolak seluruh kesaksian yang menyatakan sudah melihat bulan.
 
Di Indonesia kenyataan ini sering terjadi, bahwa mereka yang berada di kawasan Cakung dalam kesaksiannya bulan sudah terlihat, walaupun dalam hitungan pengetahuan bulan mustahil terlihat. Kesaksian inilah yang boleh ditolak oleh seorang hakim.
 
Imam As-Subki pernah memberikan pernyataannya dalam kitabnya Fatawa As-Subki, jilid 1, hal. 219:
 
فقد ذكر السبكي في فتاواه أن الحساب إذا نفى إمكان الرؤية البصرية، فالواجب على القاضي أن يرد شهادة الشهود، قال: (لأن الحساب قطعي والشهادة والخبر ظنيان، والظني لا يعارض القطعي، فضلاً عن أن يقدم عليه)
 
“Jika dalam perhitungan menyatakan mustahil bulan bisa dilihat, maka wajib bagi seorang hakim untuk menolak seluruh kesaksian tentang itu, karena hasil dari perhitungan itu sifatnya qath’iy (pasti) sedangkan hasil dari kesaksian itu adalah zhonniy (relatif), dan sesuatu yang zhonni (relatif) tidak bisa mengalahkan yang qath’iy (pasti) apalagi jika mengutamakan yang reralif ketimbang yang pasti”
 
Hal yang Disepakati
 
Namun ada beberapa hal kiranya perlu disepaki bersama dalam kaitan penentuan awal Ramadhan, syawal dan Haji ini;
 
Pertama: Bahwa penetapan awal bulan ini sangat flexibel, ini terbukti bahwa baik metode rukyat maupun hisab keduanya sama-sama menerima perbedaan. Dalam metode rukyat khilafnya adalah pada jumlah kesaksian yang harus diterima; satu orang, dua, atau harus banyak. Sedangkan dalam hisab, khsusunya di Indonesia memungkinkan untuk digunakan dua metode; Wujud Al-Hilal atau Imkan Ar-Rukyah dengan kelebihan dan kekurangannya msing-masing.
 
Kedua: Kesalahan dalam hal ini, insya Allah bagian dari kesalahan yang dimaafkan, jika memang kedua metode ini dijalankan dengan baik oleh ahlinya. Jika digunakan dengan semua gue dan bukan oleh ahlinya, maka bisa dipastikan bahwa mereka berdosa disisi Allah SWT.
 
Ketiga: Bahwa upaya untuk menyatukan ummat Islam dalam puasa dan lebaran adalah dua hal yang harus terus diperjuangkan, dan tidak boleh ada kata putus asa disini, karenanya jika memang ummat Islam diseluruh dunia ini tidak mungkin disatukan dengan kenyataan ikhtilaf al-mathali’, setidaknya disatu begara ini kita bersatu.
 
Solusinya: Menunggu Hasil Sidang Itsbat?
 
Selama ini solusi yang ditawarkan di negri ini adalah jargon “mari saling menghormati”, namun jargon ini sampai kapanpun sepertinya tidak mungkin bisa membuat penduduk negri ini bersatu dalam awal puasa dan lebaran.
 
Untuk itu solusi berikut ini kiranya bisa ditawarkan, agar perbedaan di negri ini bisa disatukan, yaitu dengan mengikuti keputusan pemerintah. Ini kaidah yang selama ini sudah disepakti oleh para ulama bahwa keputusan hakim bisa menghilangkan perbedaan yang ada.
 
Dan pada akhirnya Rasulullah SAW juga memberikan wejangannya kepada kita semua:
 
صومكم يوم تصومون، وفطركم يوم تفطرون
 
“Berpuasalah kalian dihari dimana kalian semua berpuasa, dan berbukalah (berlebaran) dihari dimana semua kalian berlebaran” (HR. Tirmidzi)
 
Mari bersama menunggu keputusan sidang itsbat, sambil menyiapkan segala sesuatunya untuk menyambut puasa Ramadhan. Semoga Allah SWT memberikan taufiq-Nya kepada kita semua. Semoga Ramadhan tahun ini lebih baik dari pada Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Amin.Wallahu A’lam Bisshawab .[]
 
Oleh: Ustadz Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA/ rumahfiqih.com

Comments

comments

RELATED BY

  • Pengertian Imsak Ramadhan

    fiqhmenjawab.net ~ Pak ustad mohon dijelaskan pengertian imsak yang biasanya diperdengarkan di radionya Masjid Agung Jami’, apakah memang ada tuntunan dari Rasul? karena kalau yang dimaksud imsak itu memulai...
  • Jika Imam Shalat Sambil Duduk, Bagaimanakah Shalat Makmum?

    fiqhmenjawab.net ~ Para ulama berbeda pendapat tentang bolehkah orang yang shalat berdiri bermakmum kepada imam yang shalat sambil duduk. Sebagian berpendapat boleh dan sebagian berpendapat tidak boleh. Ibnu Rusyd dalam...
  • Keluar Sperma Sebab Mencium atau Memeluk Istri, Batalkah Puasanya?

    fiqhmenjawab.net ~ Salah satu hal yang dapat membatalkan puasa adalah mengeluarkan sperma dengan cara onani (masturbasi) dan semacamnya. Bagaimana jika di siang hari Ramadhan seorang suami mencium atau memeluk...
  • Menolak Ide Khilafah

    fiqhmenjawab.net ~ “Buktikan bahwa sistem politik dan ketatanegaraan Islam itu tidak ada. Islam itu lengkap dan sempurna, semua diatur di dalamnya, termasuk khilafah sebagai sistem pemerintahan”. Pernyataan dengan nada...