Sosok dan Sisi Lain KH Abdul Aziz Manshur

fiqhmenjawab.net ~ Di dunia luar kebanyakan orang pasti menganggap KH. M. Abdul Aziz Manshur adalah sosok ulama yang gemar berpolotik dan jarang menetap dipondok yang diasuhnya, namun dibalik semua...
KH Abdul Aziz Manshur

fiqhmenjawab.net ~ Di dunia luar kebanyakan orang pasti menganggap KH. M. Abdul Aziz Manshur adalah sosok ulama yang gemar berpolotik dan jarang menetap dipondok yang diasuhnya, namun dibalik semua itu ternyata banyak hal lain yang justru menceritakan titik balik kepribadian luhur kyai yang tak lain cucu dari tokoh besar KH. Abdul karim ini.

Semenjak nyatri diberbagai pesantren, banyak cerita mengagumkan datang dari sejumlah kawan sejawat yang menggambarkan bentuk kecintaan KH. M. Abdul Aziz Manshur terhadap ilmu. Salah satunya beliau adalah santri yang gemar Sahrul Layaly, demi mencapai kemulaian ilmu beliau jarang sekali tidur malam, sebagian bahkan keseluruhan waktu malamnya habis tercurah hanya untuk muthola’ah dan mempelajari kitab – kitab yang sedang beliau kaji. Seakan lekat sekali sya’ir Waman Tholaba al ‘Ula Saharo al Layaly dihati beliau, maka tak heran jika dikemudian hari generasi ketiga pengasuh pesantren salaf Pacul Gowang ini dikenal alim bahkan ada sebagian orang yang berkata layak sekali jika KH. M. Abdul Aziz Manshur diberi gelar Allamah karena kemuliaan dan kapasitas ilmu yang dimilikinya.

Sisi lain dari bentuk kecintaan dan himmah yang kuat KH. M. Abdul Aziz Manshur terhadap ilmu adalah, beliau merupakan ciri kyai yang gemar Riyadhoh semasa nyatri, sebagai seorang putra kyai yang biasa didampingi oleh Khodimnya ketika nyantri, kebutuhan makan beliau sangatlah diperhatikan, namun kesiapan makanan yang diberikan oleh sang khodim ternyata tidak lantas membuat pribadi KH. M. Abdul Aziz Manshur gemar makan dan lupa daratan, beliau malah dikenal jarang sekali kenyang  dalam keseharianya, seakan ilmu dan mutholaah adalah nomor satu, tak akan ada yang bisa menggantikan, sekalipun itu makan, maka tak jarang makanan yang sudah disiapkan untuk beliau terkadang dimakan oleh sang Khodim karena Kh. M. Abdul Aziz Manshur tak memakanya.

Dikemudian hari, ketika KH. M. Abdul Aziz Manshur ini sudah pulang dari pengembaraanya mencari ilmu dan menjadi pengasuh pesantren meneruskan perjuangan sang ayah, kecintaan beliau dan kesemangatan KH. M. Abdul Aziz Manshur dalam hal Ngaji tidaklah semakin luntur, keuletan dan kecintaanya terhadap ilmu malah semakin terlihat, seringkali ketika beliau membacakan kitab kepada santri – santrinya dalam keadaan Sayah ( jawa.red: lelah) karena habis bepergiaan beliau tertidur, namun bukanya berhenti atau menutup pengajian, KH. M. Abdul Aziz Manshur malah terus membacakan kitab yang beliau pegang sambil tertidur, Subhanallah.

Bagi para santri Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyi-ien yang diasuh oleh KH. Moh. Abdul Aziz Manshur, tentu juga tidak mudah untuk melupakan moment yang terjadi di pertengahan tahun 2013, tepatnya pada bulan Juli ketika KH. Moh. Abdul Aziz Manshur melaksanakan ibadah Umroh ke tanah suci.

Petang itu, sebelum membaca surat Yasin sebagi rutinitas aurod yang dibaca seusai sholat maghrib, KH. Moh. Abdul Aziz Manshur dawuh kepada para santri dan jamaah dibelakangnya “Santri-santri sesuk mari shubuh aku pamit pengen budal umroh, kowe kabeh tak peseni ojo metu-metu, sing anteng nang pondok selama aku gak ono”. Kurang lebih demikian, pesan yang disampaikan beliau kepada santrinya.

Satu minggu berlalu, aktifitas para santri di dalam pondok Pacul Gowang yang diasuh KH. Moh. Abdul Aziz Manshur pun berbeda-beda. Sebagian ada yang tetap khusyu’ melaksanakan kegiatan-kegiatan seperti biasanya. Mereka yang berlaku demikian tentu ngugemi (baca:memegang teguh) betul apa yang didawuhkan sang kyai, namun tak sedikit pula santri yang menjadikan perginya KH. Moh. Abdul Aziz Manshur sebagai kesempatan aji mumpung.

Seakan mengetahui hal ihkwal para santrinya di pondok, ba’da sholat Jum’at tiba-tiba terdengar suara speaker dari pengurus pondok yang menyuruh semua santri untuk berkumpul di dalam masjid, karena Romo Kyai di Makkah akan menelepon. Sontak, para santripun bergegas dan berbondong-bondong memadati masjid. Satu minggu pasca sang maha guru tak ada, mungkin membuat mereka rindu akan sosok penyejuk jiwa yang kini sedang jauh dari pelupuk mata.

Selang beberapa waktu lamanya para santri menunggu dalam keheningan, berjubel dan berdesakan dengan tujuan yang sama untuk mengobati hati akan kerinduan, suara yang dinanti-nantikan itupun akhirnya terdengar sebagai penenang rasa bimbang.

“Assalamu’alaikum” Suara pelan salam KH. M. Abdul Aziz Manshur di seberang telephone memecah keheningan dalam kerumunan itu.

Dengan serempak, tanpa menunggu komando, para santripun menjawab salam sang maha guru “Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh”.

Namun, belum lama rasa lega para santri ini menyapa, mereka segera dikejutkan gambaran suasana syahdu akan sosok kyai yang tidak ada di depan mata, bagaimana tidak terharu, suara KH. M. Abdul Aziz Manshur di dalam telephone terdengar sesenggukan karena sedang menangis.

Sambil dawuh isakan itu mengatakan “santri-santri, saiki aku nang Masjidil Haram, wis ayo saiki aku tak ndungo, kowe kabeh ngamini teko kono.”

Hati mana yang tak merasa haru jika mendengar suara tangis orang yang selama ini dirindu. Sang kyai seakan tahu betul, bahwa doa adalah cara terbaik untuk menyampaikan untaian kata yang tak mungkin bisa sampai ketika ada penyekat dari dua jiwa yang tak mampu bersua. Bak dibungkam lautan dan gelombang cinta tak bertepi, para santri sirep (baca: hening) dan tertunduk khusyu’ mengamini doa sang maha guru.

Begitulah sosok kepribadian KH. M. Abdul Aziz Manshur, pendidik sejati bagi para santri, ayah rohani bagi jiwa para pencari jati diri. Semoga uswah yang telah beliau ajarkan bisa kita tiru dan teladani, amin, teriring do’a untuk sang maha guru Allah yarhamuhu.

Dari berbagai sumber

Comments

comments

RELATED BY