Batasan Aurat Wanita Bagi Mahramnya

fiqhmenjawab.net ~ Pada dasarnya, menurut mayoritas ulama fiqih, batasan aurat antara wanita dan laki-laki (yang bukan mahram) adalah wajah dan telapak tangannya saja. Sebab wanita punya kebutuhan untuk bermuamalah...
Gambar Ilustrasi
fiqhmenjawab.net ~ Pada dasarnya, menurut mayoritas ulama fiqih, batasan aurat antara wanita dan laki-laki (yang bukan mahram) adalah wajah dan telapak tangannya saja. Sebab wanita punya kebutuhan untuk bermuamalah dengan kaum lelaki dalam kehidupannya sehari-hari, seperti untuk mengambil atau memberi sesuatu dengan tangannya. [1]
 
Meskipun demikian, ada pula beberapa ulama yang memiliki pendapat berbeda. Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa telapak kaki hingga mata kakinya bukan termasuk aurat yang wajib ditutup. [2]
 
Sedangkan Ibnu Abdin yang juga dari madzhab Hanafi mengatakan bahwa punggung tapak tangan wanita termasuk aurat yang wajib ditutup. Pendapat ini berbeda dengan pendapat mayoritas ulama Fiqih.[3]
 
Sedangkan ulama dari Madzhab Hambali mengatakan bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuhnya, bahkan hingga kukunya. Imam Ahmad Bin Hambal dalam satu riwayat mengatakan bahwa jika seorang lelaki mengajak istrinya keluar rumah, maka ia tidak boleh mengajak istrinya makan (diluar rumah), karena dengan itu telapak tangannya akan dapat terlihat oleh lelaki non-mahram. [4]
 
Aurat Wanita Bagi Mahramnya
 
Jika anggota tubuh wanita yang boleh dilihat oleh non-mahram sangat begitu terbatas sebagaimana ulasan diatas. Maka, dihadapan mahramnya, sejauh mana seorang wanita boleh memperlihatkan auratnya?
 
Yang di maksud dengan ‘mahram’ disini adalah mahram mu’abbad, yakni laki-laki yang tidak boleh menikahi si wanita selama-lamanya. Kemahraman ini bisa terjadi dari beberapa sebab:
 
– Hubungan Nasab : seperti ayahnya, anak laki-lakinya, abangnya, dll.
– Hubungan Mushaharah : yaitu lantaran terjadinya pernikahan (mushaharah), seperti bapak mertua, anak laki-laki dari suaminya, menantu laki-laki, dll.
– Hubungan Persusuan : hubungan persusuan (radha’ah), seperti saudara persusuan, suami dari ibu yang menyusui, dll.
Para ulama berbeda pendapat mengenai batasan anggota tubuh yang boleh diperlihatkan oleh wanita terhadap mahramnya. Berikut pendapat ulama dari empat madzhab besar:
 
1. Madzhab Al-Hanafiyah
 
Dalam madzhab ini dikatakan bahwa batasan aurat antara wanita dengan mahramnya adalah: anggota tubuh yang ada di antara pusar dan lutut, punggungnya, dan perutnya.
 
Artinya, anggota tubuh wanita yang boleh terlihat oleh mahramnya adalah yang selain dari anggota tubuh tersebut, jika ada dalam keadaan aman dari fitnah dan tidak disertai syahwat.
 
Dalilnya adalah firman Allah SWT
 
وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاء بُعُولَتِهِنَّ…
 
Dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka….” (QS. An-Nur : 31)
 
Yang dimaksud dengan kalimat ‘jangan menampakkan perhiasannya’ dalam ayat di atas adalah bahwa larangan untuk menampakkan ‘anggota tubuh’ yang menjadi objek yang biasa dipakaikan perhiasan. Sebab, melihat perhiasan itu sendiri hukumnya mubah secara mutlak.
 
Maka kepala boleh dilihat oleh mahram, karena ia anggota tubuh untuk dipakaikan mahkota, leher dan dada untuk kalung, telinga untuk anting, pergelangan tangan untuk gelang, pergelangan kaki untuk gelang kaki, jari untuk cincin, punggungnya telapak kaki untuk dihiasi daun pacar, dll. Berbeda dengan perut, punggung dan paha yang lazimnya tidak untuk dipakaikan perhiasan. [5]
 
2. Madzhab Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah
 
Menurut ulama dari Madzhab Maliki dan pendapat resmi dari kalangan Madzhab Hambali, anggota tubuh wanita yang boleh terlihat oleh mahramnya hanya: wajah, kepala, dua tangan dan dua kaki. Maka haram baginya menampakkan dada, payudara, dan anggota tubuh lainnya dihadapan mahramnya. Dan haram pula bagi ayah, anak laki-lakinya dan mahramnya yang lain untuk melihat aurat dirinya selain pada empat anggota tersebut, walaupun tanpa syahwat. [6]
 
Sedangkan Ibnu Qudamah dari Madzhab Hambali sedikit berbeda dengan pendapat resmi madzhabnya. Menurut beliau, batasan aurat bagi wanita dengan mahramnya adalah seperti aurat antara laki-laki dengan laki-laki, dan wanita dengan wanita. Yakni anggota tubuh yang ada di antara pusar dan lutut. [7]
 
Pendapat resmi ulama dari Madzhab Hambali menambahkan bahwa mahram yang boleh melihat sebagian aurat si wanita itu maksudnya mahram yang muslim maupun yang kafir. Dalilnya adalah bahwa Abu Sufyan Bin Harb pernah masuk ke rumah putrinya yang bernama Ummu Habibah (salah satu istri Rasulullah SAW) dalam keadaan tidak berhijab, tidak menutupi seluruh auratnya. Dan saat itu Rasulullah SAW tidak menyuruh Ummu Habibah untuk menutupi auratnya di hadapan Abu Sufyan, ayahandanya yang masih kafir. [8]
 
3. Madzhab Asy-Syafi’yah
 
Mayoritas ulama dalam Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa aurat wanita yang boleh terlihat oleh mahramnya adalah anggota tubuhnya selain yang ada di antara pusar dan lutut.
 
Walaupun ada sebagian lagi yang mengatakan bahwa anggota tubuh wanita yang boleh terlihat oleh mahramnya adalah anggota tubuh yang biasa ia tampakkan saat ia beraktifitas di dalam rumah. Seperti kepala, leher, dan tangan hingga siku, juga kaki hingga lutut. Dan anggota-anggota tubuh tersebut juga menjadi batasan aurat yang boleh dilihat wanita terhadap aurat mahramnya.[9]
 
Penutup
 
Demikian beberapa pandangan dari empat madzhab besar yang ada. Oleh karena perbedaan yang ada ini, maka para muslimah di berbagai negara mungkin akan sedikit berbeda dalam berpenampilan.
 
Jika kita ke Arab Saudi misalnya, akan kita dapati para muslimahnya menutup seluruh tubuhnya tanpa kecuali, saat mereka keluar rumah. Sebab masyarakat di negeri ini kebanyakan lebih condong bermadzhab Hambali. Begitupula saat mereka beraktifitas di dalam rumah, tak banyak menampakkan anggota tubuhnya, kecuali kepala, leher, tangan dan kaki. Sebab –dalam madzhab ini- hanya bagian tubuh inilah yang boleh tampak oleh mahramnya.
 
Begitu pula jika kita berkujung ke Asia Selatan, seperti India dan Pakistan. Maka disana akan ditemui bahwa para muslimahnya kebanyakan tidak menutup kaki hingga mata kakinya, bahkan saat menunaikan shalat. Sebab mayoritas masyarakat disana cenderung bermadzhab Hanafi.
 
Lain lagi dengan kita yang tinggal di Indonesia. Hampir semua muslimahnya tidak menutup wajah dan telapak tangannya, namun tetap banyak yang mengenakan kaos kaki agar bagian kakinya tertutupi dengan baik.
 
Begitupula saat para wanita kita beraktifitas di dalam rumah bersama mahramnya, banyak yang tetap menampakkan sebagian punggung dan lengan atasnya. Hal ini disebabkan masyarakatnya lebih banyak yang condong pada Madzhab Syafi’i.
 
Wallahu a’lam bishshawab
 
Oleh: Ustadzah Aini Aryani, Lc/ rumahfiqih.com
 
REFERENSI :
[1] Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, jilid 33 hal 41
[2] Al-Kasani, Badai’ As-Shanai’ jilid 6 hal 2956
[3] Hasyiyah Ibn Abdin, jilid 1 hal 405
[4] Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyyah jilid 22 hal 110
[5] Tabyinul Haqaiq jilid 6 hal 19
[6] As-Syarh As-Shaghir, jilid 1 hal. 106
[7] Ibnu Qudamah, Al-Mughni jilid 7 hal 98
[8] Ibnu Qudamah, Al-Mughni jilid 7 hal 105
[9] Al-Khatib As-Syarbini, Mughnil Muhtaj jilid 3 hal 129

Comments

comments

RELATED BY