Kitab Fiqih: Pengertian Matan, Syarah, Hasyiyah, dan Maudhu’i

fiqhmenjawab.net ~ Pada tahun 700-an, mayoritas fuqaha (ahli fiqih) menyusun kitab fiqihnya dengan bab yang lengkap mulai dari thaharah (bersesuci) sampai dengan jinayat (krimial). Kitab ini disebut “matan” (kitab...
Ilustrasi Kitab

fiqhmenjawab.net ~ Pada tahun 700-an, mayoritas fuqaha (ahli fiqih) menyusun kitab fiqihnya dengan bab yang lengkap mulai dari thaharah (bersesuci) sampai dengan jinayat (krimial). Kitab ini disebut “matan” (kitab pertama/karya orisinal). Perkembangan selanjutnya, mayoritas fuqaha menulis kitab fiqh dengan menjelaskan lebih rinci kitab-kitab yang ada. Kitab ini disebut “syarah”. Kitab syarah itu kemudian diperinci lebih jauh lagi, kitabnya dinamakan “hasyiyah”. Tiga tradisi keilmuan itu berkembang sedemikan rupa, sehingga ilmu fiqih mencapai kejayaannya. Lahirlah berbagai jilid kitab-kitab fiqih dengan susunan bab yang sama atau ada penambahan bab.

Matan (isi pokok) adalah karya orisinal/pertama, misalnya kitab Taqrib.  Matan  tersebut  kemudian diberi syarah (penjelasan rinci) berupa kitab Fat’h al-Qarib. Syarah itu diberi hasyiyah (ekplorasi lebih luas lagi) berupa kitab al-Bajuri. Berikut ini adalah contohnya:

Matan: Air yang boleh untuk  menyucikan  ada  tujuh  air:  air langit,  air  laut,  air  sungai,  air  sumur, air sumber, air salju, dan air embun. (Kitab Taqrib)

Syarah: (Air yang boleh) artinya  sah  (untuk  menyucikan  ada tujuh:  air  langit)  artinya  yang  terjun dari langit, yaitu hujan (air laut) artinya yang asin (air sungai)  artinya  yang tawar  (air  sumur,  air  sumber, air salju dan air embun) dan tujuh air itu tercakup dalam ungkapan  Anda  “Apa  yang  turun dari  langit  dan  apa  yang menyembul dari bumi dalam keadaan bagaimanapun adalah termasuk pokok penciptann. (Kitab Fat’h al-Qarib)

Syarah ini kemudian diberi  hasyiyah,  yaitu  penjabaran  atau elaborasi lebih lanjut. Berikut ini adalah contoh hasyiyah-nya (tapi karena hasyiyah yang bersangkutan  itu  panjang  sekali, maka   demi  kepraktisan  kita  akan  mengutip  hasyiyah  yang menyangkut salah satu dari air  yang  tujuh  itu,  yaitu  “air sungai” saja):

Hasyiyah: (Perkataannya  dan  air  sungai)  rangkaian  dalam pengertian di, artinya air  yang  mengalir  di  sungai  (nahr) dengan  fa’thah  ha’  dan matinya dan yang pertama lebih fasih dan al di situ adalah untuk jenis, maka ia  mencakup  Nil  dan Furat  dan  sebagainya, dan asalnya dari surga sebagaimana hal itu  disebutkan  dalam  nas  mengenainya  sebab   sesungguhnya diturunkan  dari  surga  Nil  Mesir dan Sihun sungai India dan Jihun sungai Balkh dan keduanya itu bukanlah Sihan  dan  Jiham menurut  yang  unggul  berlainan  dengan  orang yang menyangka keduanya itu sinonim sebab Sihan adalah sungai Arnah dan Jihan adalah  sungai  al-Mashishah  dan  Dajlah dan Furat adalah dua sungai di Irak dari asal Sidrat al-Muntaha  dan  itulah  makna firman Dia Yang Maha Tinggi “Dan Kami turunkan dari langit air dengan takaran tertentu” maka pada waktu keluarnya Ya’juj  dan Ma’juj  sungai-sungai itu diangkat dan itulah makna firman Dia Yang Maha Tinggi  “Dan  sesungguhnya  Kami  tentulah  berkuasa untuk menghilangkannya. (al-Bajuri). (lihat Nur Cholis Majid dalam Tradisi Syarah dan Hasyiyah Dalam Fiqh dan Masalah Stagnasi Pemikiran Hukum Islam)

Mayoritas kitab fiqih yang ada sekarang lahir dengan tiga tadisi keilmuan tersebut di atas. Pada masa inilah muncul istilah mujtahid mutlak, muntasib, muqayyad dan tarjih. Mutlak adalah fuqoha yang menyusun sendiri metodologinya dalam memhami al-Qur’an dan al-Sunnah. Muntasib adalah fuqoha yang meminjam metodologi mujtahid mutlak dalam memahami al-Qur’an dan al-Sunnah, tetapi hasilnya bisa berbeda. Muqayyad adalah fuqoha yang sudah bermadzhab, sehingga ia berijtihad pada hal-hal yang belum dijelaskan oleh mazdhabnya. Tarjih adalah fuqoha yang sudah bermazdhab, bentuk ijtihadnya hanya membandingkan berbagai pandangan dalam madzhabnya, kemudian ia mengambil sikap dengan memilih pendapat yang lebih unggul/kuat (tentu menurut versinya).

Pada perkembangannya, penulisan kitab fiqih tidak lagi disusun lengkap dari thaharah sampi dengan jinayat. Tetapi, kitab fiqih lahir dari tradisi Maudhu’i (tematik). Tematik adalah pembahasan tema tertentu dengan tinjauan dari berbagai disiplin ilmu yang tersedia. Misalnya, tentang penentuan status hukum jual beli on line harus melalui musyawarah dari pakar dalil al-Qur’an dan al-Sunnah, pakar Teknologi informasi, pakar/parktisi bisnis, pejabat berwenang dan kepolisian. Mereka semua akan bertukar pandangan. Hasilnya menjadi fiqh.

Tradisi tematik membuat pembahasan lebih mendalam, luas dan kaya. Tetapi hanya terbatas pada tema tertentu. Pada masa inilah, muncul karya dengan dengan tema beragam tetapi dengan tema yang lebih spesifik. Misalnya, Ekonomi Islam, Bank Syariah, (dahulu dibahas pada bab buyu’), Fiqih perempuan, jilbab/hijab (dahulu dibahas pada bab shalat tentang aurat wanita), Islam dan demokrasi, Islam sains dan beberapa karya lainnya. Ciri dari karya tersebut adalah melengkapi pembahasan dengan disiplin ilmu yang tersedia, misalnya sosiologi, ekonomi, biologi, fisika, kimia, teknologi, politik, budaya, filsafat, bahasa dan lain sebagainya.

Contoh lain, dalam ilmu fiqh, ada istilah jumhur ulama (pendapat mayoritas ulama). Tetapi, dengan bantuan ilmu sosial atau sejarah kita bisa mendapatkan penjelasan pendapat jumhur (mayoritas) ulama itu kapan?, di abad berapa? bagaiman cara menghitungnya?, apakah pendapat yang dianggap sebagai mayoritas (jumhur) itu selalu mayoritas di setiap ruang dan waktu?. Apakah tidak ada kemungkinan yang dulunya dianggap pendapat jumhur menjadi tidak jumhur lagi karena seiring waktu?.

Contoh lain, di kitab Fathul Muin dituliskan sebuah kasus, yaitu apabila anjing bersenggama dengan perempuan, lantas punya anak, apakah anaknya najis atau tidak?. Dalam menjelaskan ini, kita dapat menggunakan ilmu biologi reproduksi, apakah mungkin persetubuhan anjing dan manusia itu akan melahirkan anak ?. (Nadirsyah Hosen, Pemikiran Ulama dalam Kitab Kunig, 2013)

Itulah perjalanan tradisi keilmuan dalam fiqih (setidaknya menurut penulis). Pada masa-masa yang akan datang, pastilah ada perubahan pola tradisi keilmuan, sehingga melahirkan fiqh yang lebih fress dan relevan. Janganlah berfikir bahwa semua persolan hidup umat muslim sudah terjawab oleh fiqih. Bukankah arti fiqih itu sendiri adalah paham. Ia hanyalah kumpulan opini, pemahaman, interpretasi atau ekperimen para fuqoha dalam memahami al-Qur’an dan al-Sunnah untuk memberikan kejelasan status hukum pada kegiatan atau barang. Waallahu a’lamu. Semoga bermanfaat. Selamat berfikir.

Oleh: Mohammad Karim

Comments

comments

RELATED BY

  • Madzhab Akidah Imam Asy’ari Yang Dituduh Sesat Ustadz Wahabi

    fiqhmenjawab.net ~ Andaikata Ustadz Salafi yang mengatakan Madzhab Asy’ari sesat ini hidup di masa Syaikh Ibnu Taimiyah, maka ia akan dilaporkan kepada aparat hukum agar dididik, supaya tidak menjalar...
  • Kesesatan Konsep “Trilogi Tauhid” Wahabi

    fiqhmenjawab.net ~ Pendapat kaum Wahabi yang membagi tauhid kepada tiga bagian; tauhid Ulûhiyyah, tauhid Rubûbiyyah, dan tauhid al-Asmâ’ Wa ash-Shifât adalah bid’ah batil yan menyesatkan. Pembagian tauhid seperti ini...
  • Khilafah Versus Pancasila

    fiqhmenjawab.net ~ Membaca berita detikcom mengenai statemen Ismail Yunanto yang menyebut Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tidak anti pancasila membuat saya semakin gagal paham dengan partai ini. Apalagi semasa kuliah...